Salah satu tokoh penandatangan Piagam Asimilisi 24 Maret 1960, Haji Junus Jahja (84) atau Lauw Chuan Tho meninggal dunia di RS PGI Cikini, Jakarta, Senin (7/11/2011). H Junus Jahja dikenal sebagai tokoh pembauran yang gigih menyebarkan syiar Islam di kalangan masyarakat Tionghoa. Harry Tjan Silalahi, salah seorang eksponen 66 terkemuka dan pendiri CSIS, menyebutnya sebagai orang Indonesia sejati.
Almarhum disebutnya sosok yang total dalam memperjuangkan pembauran. Dengan jiwa dan raga, dia memilih menjadi Indonesia dan konsekuen menjalankan pilihannya. Junus Jahja meninggalkan segala sesuatu yang dia miliki, termasuk harta benda dan nilai-nilai (budaya) Tionghoa yang dianutnya
Doktrin asimilasi yang ia tandatangani bersama 30 cendekiawan Tionghoa, meyakini bahwa masalah minoritas hanya dapat diselesaikan dengan jalan asimilasi dalam segala lapangan secara aktif dan bebas. Para penganut aliran asimilasi menginginkan agar asimilasi dilaksanakan dalam lima bidang kehidupan, yaitu: politik, kulturil, ekonomi, sosial/campur gaul dan kekeluargaan (pernikahan).
Konsisten pada sikapnya, Lauw Tjuan Tho pada 1963 mengganti namanya menjadi Junus Jahja. Pada 23 Juni 1979 ia masuk Islam , meyakini bahwa solusi terbaik agar dapat diterima masyarakat non Tionghoa adalah dengan cara memeluk agama Islam. Menurutnya, agama Islam adalah agama mayoritas, karenanya proses pembauran akan menjadi lebih gampang jika agamanya sudah sama. Atau dalam kata-katanya: “pindah agama Islam dilihat sebagai tindakan atau penyempurnaan terakhir dan final dari proses integrasi. Secara otomatis, orang-orang nonpri menjadi dan diterima sebagai orang kita oleh masyarakat di sekitarnya,”ujar Junus Jahja dalam bukunya Muslim Tionghoa (1995).
Tahun 1980 usai naik haji, ia bersama kawan-kawan mendirikan Yayasan Ukhuwah Islamiyah yang aktif menyebarkan agama Islam, terutama di kalangan intelektual, wiraswasta, dan remaja Tionghoa. Dalam Munas Majelis Ulama Indonesia tahun 1980, ia diangkat sebagai anggota Pengurus MUI Tingkat Nasional. Pada 11 Juni 1998, beliau juga diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) periode 1998-2003.
Beberapa orang Tionghoa yang kemudian dikenal luas menganut agama Islam antara lain Verawaty Fajrin, mantan pebulutangkis puteri. Muhammad Bob Hassan yang punya nama asli Li kiat Seng, pengusaha yang mantan Memperindag tersingkat dalam sejarah pemerintahan kita, H. Jusuf Hamka, pengusaha muda, Anton Medan, mantan preman Medan yang kini dikenal aktif sebagai pendakwah dan masih banyak yang lain. Di kota Medan misalnya ada Chiang Soey Moy atau Hj. Meinar Maimunah yang Ketua HPP INTIM (Himpunan Pengajian Pembauran Indonesia Tionghoa Muslim) dan Pimpinan Pondok Pesantren Saifullah, Ustadz Muhammad Yusuf alias Ang Chai Hoat.
Semangat Nasionalisme
Sejak masih menjadi mahasiswa di Sekolah Tinggi Ekonomi, Rotterdam, Negeri Belanda, tahun 1950-an Junus Jahja bersama mahasiswa keturunan Tionghoa lainnya, mempelopori gerakan pembauran dengan menganjurkan keturunan Tionghoa yang sudah menjadi WNI keluar dari organisasi-organisasi etnis dan masuk ke dalam organisasi yang bersifat umum. Bersama mahasiwa Tionghoa Indonesia lain, Junus Jahja mengadakan gerakan pembubaran perkumpulan eksklusif Cina, Chung Hwa Hui, dan meleburkan diri dalam Persatuan Pelajar Indonesia (PPI).
Akibat pilihan sikapnya, ia pernah dikritik “bagai kacang yang lupa pada kulitnya”, dan “pengkhianat bagi kaum Tionghoa”. Salah satu tokoh Tionghoa yang berseberangan dengan Junus Jahja adalah Siauw Giok Tjhan, yang dikenal mengembangkan doktrin nation building dan integrasi, sebuah doktrin yang ingin membangun sebuah nation atau bangsa yang bersih dari diskriminasi rasial serta adanya kesamaan hak dan kewajiban warga negaranya tanpa mempermasalahkan asal-usulnya dan mengintegrasikan etnis Tionghoa secara utuh ke dalam haribaan bangsa Indonesia.
Doktrin integrasi meyakini kebenaran konsep kemajemukan atau pluralisme bangsa Indonesia seperti yang dinyatakan para founding fathers bangsa Indonesia dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika (Ester Indah Jusuf dalam Benny G. Setiono: 2002).
Menurut Siauw kecintaan seseorang terhadap Indonesia, tidak bisa diukur dari nama, bahasa dan kebudayaan yang dipertahankannya, melainkan tindak tanduk dan kesungguhannya dalam berbakti untuk Indonesia. Konsep ini kemudian diterima oleh Bung Karno pada tahun 1963, yang secara tegas menyatakan bahwa golongan Tionghoa dan orang Tionghoa tidak perlu mengganti namanya, ataupun agamanya, atau menjalankan kawin campuran untuk berbakti kepada Indonesia (Siauw Tiong Djin dan Oey Hay Djoen: 2000).
Aliran integrasi yang dipelopori Siauw Giok Tjhan sebenarnya tidak menentang proses asimilasi yang berjalan secara suka rela dan wajar. Siauw menentang proses pemaksaan untuk menghilangkan identitas sebuah golongan (Siauw Tiong Djin dan Oey Hay Djoen: 2000 hlm. 36).
Walau menentang pendirian Siauw Giok Tjhan, namun H. Junus Jahja tetap menganggap Siauw Giok Tjhan sebagai seorang patriot idealis yang rela mempertaruhkan nyawanya bagi Indnesia merdeka , walau kemudian Siauw dinilai “terpelest” memilih kawan! (H. Junus Jahja: 2002)
Terlepas dari sikap dan pendirian Junus Jahja tentang asimilasi total, namun ada warisan nilai dan sikap berharga dari beliau, yang patut untuk diteladani, yaitu rasa cinta terhadap tanah air Indonesia atau rasa nasionalismenya yang total. Dalam berbagai kesempatan dan tulisan-tulisannya Junus Jahja tak jemu-jemu mengingatkan bahwa setiap orang Tionghoa yang lahir dan besar di Indonesia mutlak harus mencintai Indonesia sebagai tanah airnya.
”Etnis Tionghoa harus tahu diri. Mereka harus bersyukur mendapat Tanah Air yang begitu cantik. Mereka, semua suku dan keturunan apa pun yang hidup di Indonesia, harus mau berbaur dan berjuang bersama untuk maju.”
H. Junus Jahja juga dikenal sebagai penulis yang cukup produktif. Sedikitnya ada lima buah buku yang pernah ia tulis, yaitu: Zaman Harapan bagi Keturunan Tionghoa, Rekaman Dakwah Islamiyah 1979-1984 (1984), Silaturahmi Muhammadiyah dan Pengusaha Nasional Menyongsong Zaman Harapan (1990), Nonpri di Mata Pribumi (1991). Sekitar konvensi pengusaha Cina sedunia (1993), Peranakan Idealis: Dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya (2002). Bahkan dikabarkan beberapa hari sebelum menminggal, beliau tengah menyelesaikan naskah buku “Obrolan Soal Keindonesiaan” yang akan diterbitkan Yayasan Ali Karim Oei.
**Tulisan ini dimuat di harian Analisa, 14 November 2011