Perjalanan Melukis Warna (2):
Pada 28 Juni 2003, bersama Gunawan Harsojo, MBA, saya menjadi pembicara dalam kegiatan Dialog dan Bedah Buku “Buku Jurnalisme Anti Rasialisme” yang diadakan Froum Pencinta Informasi dan Buku Medan. Tapi bukan isi dialog yang berlangsung di Wisma Katolik Medan dan ddiikuti sekitar seratus warga Tionghoa ini yang mau saya ceritakan.
Saya justru mau cerita tentang seorang laki-laki tua, yang datang ke acara itu dengan menggunakan kursi roda yang didorong seorang pemuda tanggung. Rambut lelaki yang berusia 80-an tahun itu terlihat telah memutih semua.
Oleh Gunawan Harsojo, usai acara, lelaki itu kemudian dipersilakan maju ke depan untuk menerima tanda kenang-kenangan dari panitia.
“Hadirin yang terhormat, saya perkenalkan inilah Bapak Yo Siem Boen, yang sudah lama berjuang untuk pembauran di Medan. Walau sudah sepuh namun semangat Pak Siem Boen untuk ikut seminar ini masih tinggi. Untuk itu Pak Siem Boen kami minta untuk memberikan sedikit pengalaman soal pembauran yang terjadi pada tahun 1950-an di Medan,” kata Gunawan Harsojo dengan logat Semarangannya yang terdengar medok itu.
Lalu mike berpindah tangan ke Yo Siem Boen, yang menerima dengan tangan gemetar. Rona mukanya yang sebagian besar telah berkerut, terutama gelambir kulit di bawah pelupuk kedua mata, terlihat bergerak-gerak. Ketika mengawali kata-katanya, nada suaranya terdengar tersendat-sendat.Ada isak tangis kecil yang terdengar jelas lat mesin pengeras suara.
Saya yang menyaksikan kejadian itu mendadak hati saya serasa diiris sembilu.
Telinga saya masih jelas menangkap suara Yo Siem Boen yang menggeletar karena usianya yang sudah senja, dan karena disertai adanya: isak tangis!
”Sudah dua puluh tahun lebih saya bebas dari tahanan, namun baru kali ini saya diberi kesempatan untuk bicara di depan forum resmi, bahkan diberi kenang-kenangan panitia, terimakasih kepada Pak Gunawan. Dalam kesempatan ini, saya hanya mau bernyanyi saja untuk mengenang kawan-kawan saya telah gugur dalam perang melawan penjajah Belanda.”
Lalu tanpa diiringi musik dari band pengiring musik, atau musik dari cd karaoke yang diputar dari keyboard, mengalunlah dengan fasih syair lagu Butet dari mulut Yo Siem Boen:
Butet, dipangung sian do apangmu ale Butet
Damargurila damar darurat ale Butet
Damargurila damar darurat ale Butet
Idoge doge doge (hi) de i doge (hi) doge (hi) doge
Idoge doge doge (hi) de i doge (hi) doge (hi) doge
…………………………..
Butet, haru patibu ma magodang ale Butet
Asa adong da Palang Merah ale Butet
Da Palang Merah ni Negara ale Butet
Idoge doge doge (hi) de i doge (hi) doge (hi) doge
Idoge doge doge (hi) de i doge (hi) doge (hi) doge
Siem Boen, lahir di Tarutung pada 1 Januari 1919. Saya mengenalnya sekitar Mei 2001 sewaktu saya menjadi salah satu peneliti Program ‘Historical Memory” yang diadakan Yayasan Lontar Jakarta. Sim Boen muda hidup pada pusaran waktu yang antara lain ditandai munculnya gejolak revolusi di tanah air. Pada tahun 1946, Belanda, dengan membonceng NICA, mencoba menjajah kembali Indonesia. Di sejumlah daerah, muncul front-front perlawanan rakyat yang diorganisir kaum muda. Sim Boen tak terkecuali.
“Saya menjadi Komandan Barisan Pemuda Indonesia Negeri Pagaran Lambung sampai pertengahan tahun 1947”, tuturnya. Anggota BPI yang diingat Siem Boen diantaranya Victor Sihite, Hisar Hutagalung, Boas Tampubolon dan Togar Hutagalung. Tugas BPI melakukan penjagaan daerahnya dari kemungkinan serangan tentara Belanda.
Barisan pemuda yang dipimpin Sim Boen pernah terlibat dalam aksi penghancuran di Kota Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu saat Agresi I Belanda. Namun tahun 1947, ketika pemerintah melakukan peleburan terhadap barisan pemuda, dan menyatukannya dalam wadah TKR-BKR-TNI, Sim Boen memilih untuk menjadi pedagang.
Jadilah Sim Boen mengurus kembali usaha dagang yang pernah dirintis Ayahnya. Karena dekat dengan berbagai kalangan pejabat pemerintah, maka Siem Boen memperoleh monopoli untuk mengimpor rokok Inggris. Waktu itu di tengah masyarakat populer disebut “rokok Gurkha”. Hasilnya sebagian digunakan untuk membantu logistik TKR, atau laskar rakyat yang melakukan perang gerilya melawan tentara Belanda.
“Jadi cuma saya yang boleh mendatangkan dari luar negeri sampai pada Agresi kedua Belanda. Jadi kira-kira satu setengah tahunlah, tapi benar-benar saya mengeruk uang dari sana,”tutur Sim Boen. Sebagian keuntungan dari import rokok itu dipasok untuk logistik anggota Brigade Pemuda selama revolusi fisik. Seperti Brigade Bejo, Rezimen Halilintar dan Brimob. Selain itu juga digunakan untuk membiayai pemerintah daerah Tapanuli Selatan yang sedang kesulitan keuangan waktu itu.
Itulah cara menerjemahkan dan melanjutkan jiwa nasionalisme Siem Boen, Namun saya tak hendak berpanjang lebar menceritakan riwayat Yoe Siem Boen. Nukilan biografi mini tadi cuma hendak menegaskan: betapa kayanya nuansa warna-warnia lukisan etnisitas Tionghoa di bumi pertiwi ini. Namun lukisan etnisitas yang penuh warna ini, justru kerap diabaikan orang. Bahkan kerap dianggap tidak ada. Yang menghegemoni di benak mayoritas warga justru lukisan etnisitas yang tunggal. Lukisan satu warna: orang Tionghoa itu dulu antek penjajah! “Musuh tentara RI!”
Mungkin betul ada yang jadi antek penjajah, tapi tentu tidak semua orang Tionghoa. Sama juga seperti ada orang dari suku Batak, Jawa, Melayu atau Aceh yang jadi antek penjajah. Tapi tak berarti semua orang Tionghoa, Batak, Jawa, Melayu atau Aceh adalah antek penjajah. Orang Jawa menyebutnya “gebyah uyah”, menggeneralisir alias menyamaratakan.
Sama seperti istilah China (baca Chino) yang umum diplesetkan jadi “becike ora ono” (baiknya tidak ada). Waduh, tentu “wong cilik” yang pernah mendapat sentuhan kebajikan dari dr. Sofyan Tan, Tansri Chandra, Kencana Salim alias Bibie dari Rotary Club, Brilian Moktar yang anggota dewan, dr. Indra Wahidin yang Ketua INTI, Mujianto dari Buddha Tzu Chi atau Supandi Kusuma, bisa marah-marah mendengar plesetan itu.
***Kolom ini dimuat di harian Analisa 1 November 2011
