J. Anto, alias Buntomi, lahir di Purwokerto 13 April 1964, adalah almuni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Univeristas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga (1990). Pernah menjadi wartawan majalah TIARA (1991-1993) dan koresponden majalah D&R untuk wilayah Sumut (1998-1999). Semasa mahasiswa menulis artikel di beberapa surat kabar yang terbit di Semarang (Suara Merdeka, Wawasan, Berita Nasional) dan Jakarta (Suara Pembaruan, Jayakarta dan Bisnis Indonesia), dan saat ini aktif menulis artikel pada surat kabar Medan. Menulis buku Limbah Pers di Danau Toba, Media Pers Menghadapi Gurita Indorayon (2001), Membangun Peradaban Bersama Masyarakat Marjinal (2003), Menolak Menjadi Miskin, Gerakan Rakyat Porsea Melawan Konspirasi Gurita Indorayon (bersama Benget Silitonga, 2004), Labirin Politik, Perempuan Sumut Menapak Belantara Politik, (bersama Dina Lumbantobing, 2004), Pers Bebas Tapi Dilibas (2005), dan Membangun Talisilaturahmi Politisi Dengan Rakyat (2007). Editor Buku Jurnalisme (Tidak) Ramah Gender, Luka Aceh Duka Pers (2002), Jurnalisme Anti Toleransi (2003), Jalan Menuju Masyarakat Anti Diskriminasi (2004) dan Resolusi Konflik Melalui Jurnalisme Damai (2005) dan Meretas Jurnalisme Damai di Aceh (2007). Beberapa tulisannya dimuat pada buku bunga rampai seperti: Menembus Tirai Asap, Kesaksian Tahanan Politik 1965 (Yayasan Lontar, 2003) dan Pikiran-pikiran Reformasi yang Terabaikan, (UKI Press, 2003). Pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Geni Salatiga (1990). Kini menjabat sebagai Direktur Eksekutif KIPPAS (Kajian Informasi, Pendidikan dan Penerbitan Sumatera). Aktif memberikan ceramah tentang jurnalisme dan kajian-kajian media massa.
Kontak Person:
bang tulisannya kami kutip di tekongan.com
thanks ya
hai kawan,
masih ingatkah padaku? Agusta, mantan wartawan Wawasan Semarang. Kini aku di Lampung, dan suatu hari aku menemukan namamu di internet. Aku klik, dan kenangan itu kembali hadir saat kedungombo dulu.
Apa kabarmu? Aku masih ingat tatkala terdampar di Jakarta, dulu, dan engkau tampung aku di kostanmu, lalu kau beri aku uang saku untuk pulang entah kemana….salam selalu…thank atas kebaikanmu..
allow…kak…
ini saya juga anak UKSW angkatan 2002
saya salut aja…
hehehe…
kita sering diskusi2 yaa…
thx
Bang, aku akan sering berkunjung ke sini. Untuk baca-baca dan cari tambahan bahan ngajar. Blog abang sangat menarik dan bermanfaat, menambah wawasan jurnalisme.
Blognya saya link, di blog saya ya bang….
Btw, kalo ingin dapat buku2 KIPPAS gimana caranya bang? Saya pertama kenal KIPPAS 2002 lalu, saat ada pelatihan jurnalistik mahasiswa se-Sumatera di UNIMED. Salah satu pembicaranya dari KIPPAS.
Salam
Badri
kebetulan buku-buku kippas terbatas stoknya, satu dua buku bisa diambil gratis di kantor jika ada waktu, salam kreatif
alo pa kabar. blog nya bagus bgt
seneng juga ketemu teman2 dari uksw, jadi pengin balik ke salatiga, khususa pengin makan nasig goreng babat dan iso pakai pete gede-gede, hehehe, masih ada gak ya?
nasi goreng babat iso masih ada kok…… wueenaaakkkk tenan
Mantap Bang…. lanjutkan perjuangan. Salam kenal dari saya http://www.nazarmargolang.com
Masihkah kau ingat Pak Imam Sudrajat yang guru Bahasa Indonesia SMP N 1 Ajibarang? Beliaulah yang membuat kita “tersesat” di dunia tulis-menulis dan cetak-mencetak. Walau aku tak sesukses kamu, aku pun tak jauh dari dunia baca-membaca ini.
Bravo!
Rif, emailmu sing bener sing endi? aku kirim ke arifbudi@yahoo.com, balik terus?
Kang, njaluk no hpne adikmu siki nang ndi? Kirim ke emailku ya kang.Mbiyen sak jurusan komunikasi dan sak kampus ma aku di fisip UNS. Kapan bagi-bagi cerita nang Purbalingga. Siki aku nang ndesa bareng karo Bagus Antono adine kang Bagus Pursena. Nek balik kabar-kabar lah berbagi cerita majukna banyumas ya. Biyen aku nang percik salatiga sedela. Kiye gawe jaringan nag banyumas. Tulung dibagi pengalamane ya. AGUSTINUS alumini fisip uns.Thx
Mampir bentar Pak…
Kita pernah kumpul-kumpul ex TIARA. Ingat Ali Asim? Cerita lama.
Oya,ada yang tertinggal OM, Vicman (Victor Manahara) sekarang bisnis komputer IT di mal ambasador jakarta. Sukses dia. situs bisnisnya kirimpesan.com.
Salatiga pindah ke Medan?
Hari ini (Rabu 25 Feb) George Aditjondro ada Opini di Suara Pembaruan. Siapa lagi asal Salatiga di Medan setelah Bun?
bang tulisannya juga kami kutip di milis sa-roha ya, mohon ijin ya bang. trims
bung yan, mana ulasan yang lain tentang korban 65 ? saya Adi MA (mbambung asli). suka baca tulisan anda. sukses
ternyata tak cukup curi ilmu sambil cakap2 saja dengan abang, terpaksa aku singgahi di blog ini utk referensi, mantap bang!
Bun ,kabarnya gimana masih ingat sama aku , aku arif yang dulu ikut kost sama kamu ! Aku cari di internet ternyata ketemu kamu ! Kamu di medan jauh banget ! Balas ya sekarang !
kabar bagus, ini Arif PMP ya? Bocah purbalingga?
oya Bun beberapa waktu yang lalu aku pernah ketemu Kris…. yg dulu ikut kamu di Yayasan Geni di(salatiga) …. inget gak…dia nanyain ttg kamu.. aku jawab gak tahu…trus aku cari2 di internet …akhirnya ketemu juga…
Buntomi , kabare Pujo gimana ,sudah lama ngak ketemu !
Bun emailku yang bener arifbudich@yahoo.com sory yang kemarin itu salah .Lagi ngapain Bun sekarang !
salam kenal pak, saya sekretaris gabungan wartawan indonesia kabupaten rokan hilir, kapan bisa main ke Rohil kasi pelatihan jurnalis? segala sesuatunya akan kita persiapkan.
He he ini Buntomi yg “kabur” dari Salatiga gara-2 kalender TUR ya ? Alhamdulillah kalo skrg sdh nyaman di Medan. Aku wong solotigo asli, thn 90 an jadi tukang nyari berita di Harian Jogja Post. Meski gak begitu kenal ama anak- anak Geni, tapi aku lumayan mengenal mereka kaya Wiwil, Ery, Andreas Harsono dll.
Ok, salam hangat buat semuanya & sukses buat semuanya
salut deh, sempat nyari2 artikelmu, saya sesama alumni FKIP/PDU angkatan 86
salut deh, sesama alumni fkIP/PDU angkatan 1986
saya minta tolong boleh nda,minta no hpnya j anto alias buntomi terima kasih